Jumat, 19 April 2013

Cerpen 'Sebuah Komitmen"



Cerpen

Sebuah Komitmen
Oleh : Azizah Pratiwi

            Aku masih bersipuh di atas sajadah dengan takbir dan iftitahku yang terpatah, ada rukuk’ yang membelenggu. Dalam kekerasan hati berlapis batu. Lalu I’tidalku kaku bersama ruh dan jasadku yang enggan menyatu. Kepala sujud dan tujuh bagian menyentuh altar kerendahan.
            Aku masih membisu menghadapNya. Ada rasa tak mampu dan lemah dengan sifatku yang salah. Sebagai manusia aku hanya sebuah makhluk kecil yang tak berdaya dihadapanNya, yang selalu lalai dan membangkang dengan segala tindak laku ku di dunia. Aku masih merenung dengan apa yang telah terjadi padaku. Aku malu ya Rabb, sebagai aktivis dakwah yang seharusnya bisa menjaga iman dan taqwaku kepadamu malah hati ini membangkang.  Aku merasa diambang komitmen yang selama ini aku pegang.
            Ya, sebuah komitmen yang selalu aku agungkan dan selalu aku nasihati kepada saudaraku. Akan tetapi aku memang laki-laki lemah. Ada rasa tak nyaman dengan sikapku ini, aku teringat dengan kejadian tadi pagi. Tentang seseorang, ya seseorang yang mampu mengoyahkan imanku. Seseorang yang telah mengubah hidupku. Tentang seseorang teman. Ya, sederhana memang, hanya seorang teman.  Namun, di hatiku aku tak pernah menganggapnya sebagai teman biasa. Ia mendapat tempat yang tak biasa di hatiku.
            Kini, hari-hariku kian menyiksa dan mendesakku. Demi sebuah komitmen, aku menganggapnya tak lagi sebagai seorang teman. Hingga hari ini, aku menjauhinya dan mengggapnya lebih daripada musuh. Hingga aku terpaksa untuk menghindar jauh, sejauh yang ku bisa. Namun. Ia tetap saja menyapaku. Tersenyum manis. Sangat manis. Aku heran, dan semakin heran.  Hingga aku harus lebih ekstra menjauhinya dan memusuhinya. Aku tahu temanku itu menyadari sikapku yang aneh bagi dirinya. Hinggga kini, ia memburuku dengan seribu pertanyaan. Membuatku harus berlari sekencang mungkin. Sungguh, aku seperti di teror. Ah, dia adalah musuhku, tak akan pernah ku jawab hingga kapanpun. Tak kan pernah.
Dia Nisa,  teman forum yang seorganisasi denganku. Hingga hari ini ia selalu mencariku dan memburuku dengan seribu pertanyaan. Pertanyaan yang tak mampu aku jawab.pertanyaan yang hanya menumbangkan semua komitmen yang telah ku bangun selama ini.  Jika aku jawab maka aku adalah seorang munafik dan melanggar komitmenku selama ini. Dibalik sikap permusuhan yang telah ku kibarkan untuknya aku  jua kasihan dengan Nisa. Ia pasti merasa tersiksa dengan sikapku ini.
Nisa adalah temanku di perkuliahan, ya seorang teman yang selama ini saling memotivasi dan seperjuangan forum dan dakwah di kampus selama ini. Kami selalu berkerja demi dakwah di kampus. Namun, belakangan ini aku mengibarkan bendera permusuhan dengannya. Menganggapnya tak lagi sebagi seorang teman, ataupun sahabat. Aku  kibarkan bendera ini demi sebuah komitmen. Aku sengaja menghindarinya, dan menjauh sejauh apapun jua. Semua itu demi komitmen. Ya, sebuah komitmen yang aku pegang selama ini. Dan aku telah bertekad sejak dahulu untuk tidak melanggar komitmen ini. Ya, aku berjanji pada diri sendiri.
Tadi pagi, Nisa yang telah ku anggap sebagai musuh beberapa hari ini mencari-cariku seperti seorang teroris. Ia mencariku di kampus dan di temapat-tempat biasa kami berdiskusi.  Dan aku kian mengibarkan bendera peperangan dan permusuhan itu setinggi-tingginya. Tak kan ku biarkan ia melanggar komitmenku. Benderaku kian berkibar. Namun, setelah aku pulang kuliah. Tak sengaja aku berpapasan dengannya. Hingga ia menyodorkan beribu pertanyaan yang menggelayut di otaknya.
            “Hanif  kamu tuh kenapa sih, beberapa hari ini kamu sangat berubah. Ada apa? Kau, seperti menjauhi dan memusuhiku? Apa aku punya salah padamu? Jika benar, aku minta maaf ya!tapi,  aku ingin tahu kenapa kamu menjauhiku? apakah kau tidak menganggapku teman lagi? Kamu kan selalu cerita kalau  ada apa-apa. Apakah kamu tidak mau bercerita denganku lagi?” Tanya Nisa kian menyodorkan pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin ku jawab. Sungguh tak ingin.
            “ Aku tidak apa-apa” jawabku singkat dan berpaling darinya. Aku ingin segera berlalu dari dirinya. Sungguh aku tidak bisa mengucapkan kata lain dan terbaik selain  “aku tidak apa-apa”. Ia menatapku heran. Ya, mungkin ia merasa aku kian aneh. 

Setelah itu aku berlalu pergi meninggalkan beribu pertanyaan yang masih menggantung di benaknya. Ku biarkan Nisa dalam kebingungan yang panjang dan pikiran yang berperang di otaknya. Aku berlalu ketika ia menyusun pertanyaan baru.
“ta…ta..tapi,………………”. Nisa mencari pertanyaan yang siap di berikan padaku. Di saat Nisa mencari beribu pertanyaan di otaknya. Aku berfikir keras untuk enyah di hadapannya.  Ketika ia mulai menemukan pertanyaan.  Nisa tak menemukanku lagi. Aku mencari langkah seribu untuk menjauh darinya. Ia semakin merasa heran dengan sikapku. Aku bergumam dalam hati “Nisa… kenapa ini terjadi padaku?”. Bisikku dalam hati. “ ini tidak boleh terjadi, sebuah komitmen yang selama ini aku pegang tidak boleh luntur begitu saja, aku masih ingin istiqomah dijalanmu ya Rabb”, ujarku yang kian menjauh dengan langkah seribu.
Malam ini aku kian gelisah. Ku tumpahkan segala kegalauan  di sajadah panjang dan rukuk dan I’tidalku yang terpatah. Aku gelisah. Benar-benar gelisah. Ku tengadahkan tangan untuk mohon petunjukNya. Aku tercekat dengan kalimatku yang terakhir dalam doaku yang kupanjatkan malam ini, aku memang lemah tidak dapat menahan godaan. Aku berperang melawan komitmen sendirian. Tak ada yang tahu dengan apa yang tengah aku alami. Termasuk Nisa. Aku hanya tahu sebagai muslim sejati aku tidak boleh melanggar komitmenku selama ini, aku menangis dengan sujudku yang panjang. “aku tidak ingin  melanggar komitmenku ya Allah. Tapi kenapa aku begitu rapuh kali ini, sangat rapuh. Telah lama ku pegang komitmen yang pantang untuk ku langgar ini. Tapi kenapa kali ini luluh! Aku terdaya, aku tak kuat melawan komitmenku sendiri.”
            Kampus semakin terasa sempit bagiku. Aku bagaikan tersangka yang di cari-cari massa. Ya, di buru oleh massa yang hanya berjumlah satu orang. Tapi aku gentar. “kenapa aku jadi pengecut seperti ini?” sejumlah pertanyaan melawan ketakutanku ku hanturkan dalam hati. Namun, tetap saja. Aku pengecut.  Aku bagaikan tawanan yang kabur dari sel penjara. Akku dihantui oleh sahabat yang aku anggap sebagai musuh beberapa waktu ini. Ya, siapa lagi selain Nisa. Nisa kian menghantuui hidupku. Di kampus, di organisasi dan dimanapun aku berada walau Nisa tak ada untuk mencariku. Namun, bayangannya seolah-olah sedang menterorku.

Ketika aku ingin menenangkan diri bergelayut dan bersembunyi di balik perpustakaan kampus. Aku merasa dunia semakin sempit. Dia, hantu itu kembali bertemu denganku. Ya, hantu. Walaupun aku tak pernah percaya hantu. Namun, dia bagaikan hantu. Ya, siapa lagi. Nisa.  Tanpa sengaja aku bertemu dengannya di perpustakaan. Dengan sigap aku memalingkan muka darinya gar dia tidak melihatku, namun usahaku gagal. Ia menghampiriku dan kali ini aku tidak dapat mengelak lagi. Situasi tak bersahabat lagi denganku. Aku tersudut dan tak dapat mengelak lagi.
 Kali ini ia tak lagi mencarii beribu pertanyaan itu. Ia bersikap tenang agar aku tak kabur lagi dari hadapannya. Namun, aku tahu dia akan tetap menayakan sikapku. Kali ini akku tak dapat lagi mengelak. Aku akan beranikan diri untuk menjawab pertanyaanya. Walapun itu beribu pertanyaan.
“dari mana Hanif?” ujarnya yang agak kaget berpapasan denganku. “aaa…aku mau nyari buku!” ujarku gugup.  Aku tahu, kalimat berikutnya ia kan bertanya dengan sikapku. Tak lama kemudian. Aku memag mendengar pertanyaan itu. “kamu kenapa? Ada masalah?” ujarnya yang agak takut mendesakku. “aa…a.. anu, aku baik-baik saja?” “baik????” ujarnya heran.  Dia terus bertanya tentang sikapku. Aku memang tahu keadaanku memang tak sebaik itu. Aku galau. Aku terus berperang dengan semua ketakutanku. Kali ini aku bertekad untuk menjawab semua pertanyaan itu. “hm…. Sebenarnya… aa..aku…?” “ya… kenapa?” ujar Nisa tak sabar.
Akhirnya dengan gugup aku bercerita kepadanya tentang sikapku selama ini. Dia masih menunggu aku bercerita, dengan sangat hati-hati aku pilih kata-kata terbaik. “Nisa.. jujur aku mencintai seorang wanita,” Mendadak Nisa kaget dengan perkataanku. Dia tahu persis siapa aku. Nisa persis mengetahui bahwa diriku selama ini  memegang sebuah komitmen.  Ya, sebuah komitmen yang sering ku ungkapkan padanya dan berdebat dengannya. Komitmen untuk tidak akan pacaran. Namun, sekarang ini aku mengatakan malah menyalahi komitmenku sendiri.  Nisa masih tak percaya dengan kata-kataku, ia masih terdiam. Terlihat raut sedih di wajahnya.
            Aku juga terdiam menunggu reaksi Nisa. Namun, tak ku duga sontak Nisa buru-buru pergi dariku dengan wajah sedih. Seperti mau menangis. Bulir-bulir bening itu hendak jatuh di pelupuk matanya. Ia berlari meninggalkanku. Kian berlari sejauh-sejauhnya dari pandanganku. Aku hanya terpaku, aku bingung. Bingung dengan semuanya. Aku hanya bisa melongo menatapnya yang kian menghilang dari hadapanku. Ia telah menghilang sebelum aku berkata lebih banyak.
Dalam kebingungan aku hanya bisa terdiam. Aku semakin dilemma. Kegalauanku kian memuncak. “Kenapa kamu lari Nisa? Apakah kamu tidak menyukaiku? Kamu lah yang aku sukai selama ini.” Nisa yang selama ini yang aku anggap sebagai teman dan sahabat. Namun, ia berubah menjadi cinta seriing berlajannya waktu.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar