Cerpen
Sebuah Komitmen
Oleh : Azizah Pratiwi
Aku masih bersipuh di atas sajadah
dengan takbir dan iftitahku yang terpatah, ada rukuk’ yang membelenggu. Dalam
kekerasan hati berlapis batu. Lalu I’tidalku kaku bersama ruh dan jasadku yang
enggan menyatu. Kepala sujud dan tujuh bagian menyentuh altar kerendahan.
Aku masih membisu menghadapNya. Ada
rasa tak mampu dan lemah dengan sifatku yang salah. Sebagai manusia aku hanya
sebuah makhluk kecil yang tak berdaya dihadapanNya, yang selalu lalai dan
membangkang dengan segala tindak laku ku di dunia. Aku masih merenung dengan
apa yang telah terjadi padaku. Aku malu ya Rabb, sebagai aktivis dakwah yang
seharusnya bisa menjaga iman dan taqwaku kepadamu malah hati ini
membangkang. Aku merasa diambang
komitmen yang selama ini aku pegang.
Ya, sebuah komitmen yang selalu aku
agungkan dan selalu aku nasihati kepada saudaraku. Akan tetapi aku memang
laki-laki lemah. Ada rasa tak nyaman dengan sikapku ini, aku teringat dengan
kejadian tadi pagi. Tentang seseorang, ya seseorang yang mampu mengoyahkan
imanku. Seseorang yang telah mengubah hidupku. Tentang seseorang teman. Ya,
sederhana memang, hanya seorang teman.
Namun, di hatiku aku tak pernah menganggapnya sebagai teman biasa. Ia
mendapat tempat yang tak biasa di hatiku.
Kini,
hari-hariku kian menyiksa dan mendesakku. Demi sebuah komitmen, aku
menganggapnya tak lagi sebagai seorang teman. Hingga hari ini, aku menjauhinya
dan mengggapnya lebih daripada musuh. Hingga aku terpaksa untuk menghindar
jauh, sejauh yang ku bisa. Namun. Ia tetap saja menyapaku. Tersenyum manis.
Sangat manis. Aku heran, dan semakin heran. Hingga aku harus lebih ekstra menjauhinya dan
memusuhinya. Aku tahu temanku itu menyadari sikapku yang aneh bagi dirinya. Hinggga
kini, ia memburuku dengan seribu pertanyaan. Membuatku harus berlari sekencang
mungkin. Sungguh, aku seperti di teror. Ah, dia adalah musuhku, tak akan pernah
ku jawab hingga kapanpun. Tak kan pernah.
Dia
Nisa, teman forum yang seorganisasi
denganku. Hingga hari ini ia selalu mencariku dan memburuku dengan seribu
pertanyaan. Pertanyaan yang tak mampu aku jawab.pertanyaan yang hanya
menumbangkan semua komitmen yang telah ku bangun selama ini. Jika aku jawab maka aku adalah seorang munafik
dan melanggar komitmenku selama ini. Dibalik sikap permusuhan yang telah ku kibarkan
untuknya aku jua kasihan dengan Nisa. Ia
pasti merasa tersiksa dengan sikapku ini.
Nisa
adalah temanku di perkuliahan, ya seorang teman yang selama ini saling
memotivasi dan seperjuangan forum dan dakwah di kampus selama ini. Kami selalu
berkerja demi dakwah di kampus. Namun, belakangan ini aku mengibarkan bendera
permusuhan dengannya. Menganggapnya tak lagi sebagi seorang teman, ataupun
sahabat. Aku kibarkan bendera ini demi
sebuah komitmen. Aku sengaja menghindarinya, dan menjauh sejauh apapun jua.
Semua itu demi komitmen. Ya, sebuah komitmen yang aku pegang selama ini. Dan
aku telah bertekad sejak dahulu untuk tidak melanggar komitmen ini. Ya, aku
berjanji pada diri sendiri.
Tadi
pagi, Nisa yang telah ku anggap sebagai musuh beberapa hari ini mencari-cariku
seperti seorang teroris. Ia mencariku di kampus dan di temapat-tempat biasa
kami berdiskusi. Dan aku kian mengibarkan
bendera peperangan dan permusuhan itu setinggi-tingginya. Tak kan ku biarkan ia
melanggar komitmenku. Benderaku kian berkibar. Namun, setelah aku pulang
kuliah. Tak sengaja aku berpapasan dengannya. Hingga ia menyodorkan beribu
pertanyaan yang menggelayut di otaknya.
“Hanif kamu tuh kenapa sih, beberapa hari ini kamu
sangat berubah. Ada apa? Kau, seperti menjauhi dan memusuhiku? Apa aku punya
salah padamu? Jika benar, aku minta maaf ya!tapi, aku ingin tahu kenapa kamu menjauhiku? apakah
kau tidak menganggapku teman lagi? Kamu kan selalu cerita kalau ada apa-apa. Apakah kamu tidak mau bercerita
denganku lagi?” Tanya Nisa kian menyodorkan pertanyaan-pertanyaan yang tak
ingin ku jawab. Sungguh tak ingin.
“ Aku tidak apa-apa” jawabku singkat
dan berpaling darinya. Aku ingin segera berlalu dari dirinya. Sungguh aku tidak
bisa mengucapkan kata lain dan terbaik selain
“aku tidak apa-apa”. Ia menatapku heran. Ya, mungkin ia merasa aku kian
aneh.
Setelah
itu aku berlalu pergi meninggalkan beribu pertanyaan yang masih menggantung di
benaknya. Ku biarkan Nisa dalam kebingungan yang panjang dan pikiran yang
berperang di otaknya. Aku berlalu ketika ia menyusun pertanyaan baru.
“ta…ta..tapi,………………”.
Nisa mencari pertanyaan yang siap di berikan padaku. Di saat Nisa mencari
beribu pertanyaan di otaknya. Aku berfikir keras untuk enyah di
hadapannya. Ketika ia mulai menemukan
pertanyaan. Nisa tak menemukanku lagi.
Aku mencari langkah seribu untuk menjauh darinya. Ia semakin merasa heran
dengan sikapku. Aku bergumam dalam hati “Nisa… kenapa ini terjadi padaku?”. Bisikku
dalam hati. “ ini tidak boleh terjadi, sebuah komitmen yang selama ini aku
pegang tidak boleh luntur begitu saja, aku masih ingin istiqomah dijalanmu ya
Rabb”, ujarku yang kian menjauh dengan langkah seribu.
Malam
ini aku kian gelisah. Ku tumpahkan segala kegalauan di sajadah panjang dan rukuk dan I’tidalku
yang terpatah. Aku gelisah. Benar-benar gelisah. Ku tengadahkan tangan untuk
mohon petunjukNya. Aku tercekat dengan kalimatku yang terakhir dalam doaku yang
kupanjatkan malam ini, aku memang lemah tidak dapat menahan godaan. Aku
berperang melawan komitmen sendirian. Tak ada yang tahu dengan apa yang tengah
aku alami. Termasuk Nisa. Aku hanya tahu sebagai muslim sejati aku tidak boleh
melanggar komitmenku selama ini, aku menangis dengan sujudku yang panjang. “aku
tidak ingin melanggar komitmenku ya
Allah. Tapi kenapa aku begitu rapuh kali ini, sangat rapuh. Telah lama ku
pegang komitmen yang pantang untuk ku langgar ini. Tapi kenapa kali ini luluh!
Aku terdaya, aku tak kuat melawan komitmenku sendiri.”
Kampus semakin terasa sempit bagiku.
Aku bagaikan tersangka yang di cari-cari massa. Ya, di buru oleh massa yang
hanya berjumlah satu orang. Tapi aku gentar. “kenapa aku jadi pengecut seperti
ini?” sejumlah pertanyaan melawan ketakutanku ku hanturkan dalam hati. Namun,
tetap saja. Aku pengecut. Aku bagaikan
tawanan yang kabur dari sel penjara. Akku dihantui oleh sahabat yang aku anggap
sebagai musuh beberapa waktu ini. Ya, siapa lagi selain Nisa. Nisa kian
menghantuui hidupku. Di kampus, di organisasi dan dimanapun aku berada walau
Nisa tak ada untuk mencariku. Namun, bayangannya seolah-olah sedang menterorku.
Ketika
aku ingin menenangkan diri bergelayut dan bersembunyi di balik perpustakaan
kampus. Aku merasa dunia semakin sempit. Dia, hantu itu kembali bertemu
denganku. Ya, hantu. Walaupun aku tak pernah percaya hantu. Namun, dia bagaikan
hantu. Ya, siapa lagi. Nisa. Tanpa
sengaja aku bertemu dengannya di perpustakaan. Dengan sigap aku memalingkan
muka darinya gar dia tidak melihatku, namun usahaku gagal. Ia menghampiriku dan
kali ini aku tidak dapat mengelak lagi. Situasi tak bersahabat lagi denganku.
Aku tersudut dan tak dapat mengelak lagi.
Kali ini ia tak lagi mencarii beribu
pertanyaan itu. Ia bersikap tenang agar aku tak kabur lagi dari hadapannya.
Namun, aku tahu dia akan tetap menayakan sikapku. Kali ini akku tak dapat lagi
mengelak. Aku akan beranikan diri untuk menjawab pertanyaanya. Walapun itu beribu
pertanyaan.
“dari
mana Hanif?” ujarnya yang agak kaget berpapasan denganku. “aaa…aku mau nyari
buku!” ujarku gugup. Aku tahu, kalimat
berikutnya ia kan bertanya dengan sikapku. Tak lama kemudian. Aku memag
mendengar pertanyaan itu. “kamu kenapa? Ada masalah?” ujarnya yang agak takut
mendesakku. “aa…a.. anu, aku baik-baik saja?” “baik????” ujarnya heran. Dia terus bertanya tentang sikapku. Aku
memang tahu keadaanku memang tak sebaik itu. Aku galau. Aku terus berperang
dengan semua ketakutanku. Kali ini aku bertekad untuk menjawab semua pertanyaan
itu. “hm…. Sebenarnya… aa..aku…?” “ya… kenapa?” ujar Nisa tak sabar.
Akhirnya
dengan gugup aku bercerita kepadanya tentang sikapku selama ini. Dia masih
menunggu aku bercerita, dengan sangat hati-hati aku pilih kata-kata terbaik. “Nisa..
jujur aku mencintai seorang wanita,” Mendadak Nisa kaget dengan perkataanku. Dia
tahu persis siapa aku. Nisa persis mengetahui bahwa diriku selama ini memegang sebuah komitmen. Ya, sebuah komitmen yang sering ku ungkapkan
padanya dan berdebat dengannya. Komitmen untuk tidak akan pacaran. Namun, sekarang
ini aku mengatakan malah menyalahi komitmenku sendiri. Nisa masih tak percaya dengan kata-kataku, ia
masih terdiam. Terlihat raut sedih di wajahnya.
Aku juga terdiam menunggu reaksi
Nisa. Namun, tak ku duga sontak Nisa buru-buru pergi dariku dengan wajah sedih.
Seperti mau menangis. Bulir-bulir bening itu hendak jatuh di pelupuk matanya.
Ia berlari meninggalkanku. Kian berlari sejauh-sejauhnya dari pandanganku. Aku
hanya terpaku, aku bingung. Bingung dengan semuanya. Aku hanya bisa melongo
menatapnya yang kian menghilang dari hadapanku. Ia telah menghilang sebelum aku
berkata lebih banyak.
Dalam
kebingungan aku hanya bisa terdiam. Aku semakin dilemma. Kegalauanku kian memuncak.
“Kenapa kamu lari Nisa? Apakah kamu tidak menyukaiku? Kamu lah yang aku sukai
selama ini.” Nisa yang selama ini yang aku anggap sebagai teman dan sahabat.
Namun, ia berubah menjadi cinta seriing berlajannya waktu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar